Menu

Monday, April 22, 2013

Dharma...


Dharma.....

Bu Alzena/Thifa's Mom (Al Razi Blue)


Pagi itu kereta baru 45 menit meninggalkan stasiun Gambir ketika sebuah BBM kuterima. Tak mungkin, pikirku. Jari-jariku mengirimkan BBM lain untuk mengkonfirmasi berita yang kuterima. Rasa tak percaya masih menyelimuti diriku sehingga obrolan dengan rekan seperjalanan pun terhenti. Tak sampai 5 menit kemudian konfirmasi kuterima. BBM, SMS dan percakapan telepon menguatkan sebuah berita: Mas Anto meninggal dunia……Bagaimana mbak Santi? Dharma? Oma? Dan, sepanjang hari itu pikiranku tak lepas dari Dharma.

Pertemuanku pertama kali dengan Dharma, putri tunggal Mbak Santi dan Mas Anto, adalah ketika masa observasi untuk masuk kelas 1. Seorang gadis kecil yang ramah dan menyenangkan. Sikapnya selalu riang dan menggemaskan. Hari-hari awal sekolah, Dharma adalah salah satu anak yang menemani putriku melalui masa sulit. Tidak mudah memang bagi putriku untuk masuk ke lingkungan yang baru dikenalnya. Apalagi  ini pertama kalinya ia bersekolah. Nama Dharma selalu dia sebutkan ketika bercerita sepulang sekolah, tentang kegemaran Dharma menggambar dan, oh ini yang unik, bagaimana Dharma menirukan suara kucing dengan menggemaskan.Siapa pun yang menyaksikan Dharma dengan kitty-nya pasti tersenyum dan ingin memeluknya. She’s so adorable. Dharma pula yang memotivasi putriku untuk menggunakan bahasa Inggris di sekolah. Mereka belajar bersama-sama. Saling membantu.

Seiring dengan aktivitas di sekolah, beberapa kali aku bertemu dengan Mas Anto dan Mbak Santi. Meskipun, ya, aku lebih sering bertemu Oma ketika menjemput anak-anak atau mengantar Dharma bermain bersama teman-temannya. Dharma beruntung, kedua orangtuanya berusaha memberikan yang terbaik baginya, menjadi teman yang menyenangkan dan Oma pun selalu menjadi teman cerita yang asyik bagi kami. Walaupun Mbak Santi bekerja, Beliau tetap berusaha terlibat dalam kegiatan sekolah yang dilaksanakan orangtua. Mbak Santi selalu siap berpartisipasi dalam semua kegiatan, seperti bermain operet di hadapan anak-anak. Di lain waktu ketika Mbak Santi tidak bisa hadir, maka Oma yang akan mewakili. Aku merasa itu semua mereka lakukan untuk Dharma. Aku ingat di family gathering pertama saat SD dicampur dengan TK, Mbak Santi dan Mas Anto sibuk jaga stand minuman yang digagas Parents Association SD. Di lain waktu, keduanya hadir ketika pertemuan orangtua di setiap awal tahun ajaran. Meski jarang berinteraksi langsung dengan Mas Anto, aku jadi tahu dari mana Dharma belajar sikap yang tenang dan menyenangkan. Dharma persis Mas Anto. Melihat keduanya, semua pasti sepakat, Dharma is a Daddy’s girl. Sungguh seorang Ayah yang menikmati perannya.

Bulan Mei tahun lalu, ketika Dharma berulang tahun ke-9, hampir semua temannya hadir merayakan dan berdoa bagi Dharma. Ulang tahun adalah momen yang istimewa. Semua orang bersuka-cita. Tampak ekspresi bangga dan bahagia di wajah Mbak Santi dan Mas Anto. Suatu bukti bahwa Dharma bisa bermain dan diterima oleh semua teman-temannya. Dharma begitu disayangi oleh semua orang karena sikapnya. Beruntungnya Dharma, pikirku. Orangtuanya melimpahi kasih sayang yang amat besar sehingga ia pun mampu membagikan keceriaan dan kehangatan bagi semua orang.

Akhir semester lalu adalah saat terakhir aku bertemu Mas Anto. Ketika perwakilan kelas 4 hendak berdiskusi dengan Bu Dini, kepala sekolah, Mas Anto mengantarkan mbak Santi ke ruangan sambil berujar, “Titip Dharma, ya, Bu. Titip Dharma,” Kedua tangannya ditangkupkan di depan dada sambil beberapa kali ia mengulangi kalimat tersebut dengan senyumnya yang khas. Aku yang sudah duduk di dalam ruangan ikut tersenyum.
Mungkin, Mas Anto merasa bahwa perannya sebagai pelindung bagi Dharma hanya sementara Sejatinya kita semua hanya singgah sebentar di dunia ini untuk merawat segala titipan Allah SWT. Semoga kasih sayang yang dilimpahkan Mas Anto kepada Dharma dan dibiaskan ke sekelilingnya menjadi bekal amalan Mas Anto berpulang menghadap Sang Pencipta.

Selamat jalan, Mas Anto. Kami semua sayang Dharma dan Mbak Santi.

Mengenal Nama Allah dengan Bowling


PAI

Mengenal Nama Allah dengan Bowling

Pak Lutfhi/PAI Teacher


Asmaul Husna adalah salah satu topik Pelajaran Agama Islam yang ada di kelas 2. Asmaul Husna sendiri adalah nama-nama yang baik bagi Allah. Pak Lutfi selaku guru PAI punya cara unik untuk mengajarkan Asmaul Husna ke anak-anak. Yuk kita liat tips dan triknya.

Pak Lutfi memiliki alasan sendiri mengapa ia memanfaatkan media bowling sebagai pembelajaran Asmaul Husna. Menurut beliau, anak-anak grade 2 adalah anak yang sangat aktif dan memiliki banyak energi. Sehingga belajar dengan menggunakan media bermain seperti ini akan memudahkan pembelajaran agama itu sendiri.

Alat dan bahan     : 10 pin bowling, masing-masing diberi nomor 1- 5
        Bola bowling

Lama permainan : 15 menit
Cara bermain       :

  • Pertama – tama guru memberikan materi tentang Asmaul Husna sembari mencontohkan gerakan agar mudah dihapal oleh anak – anak. Adapun Asmaul Husna yang diajarkan sebagai berikut :

 Asmaul Husna
a.       Al  - Khaliq (Maha pencipta), gerakan membuat lingkaran yang berarti Allah yang menciptakan bumi
b.      As-Salam (Maha Menyelamatkan), gerakan mengangkat tangan kanan sejajar telinga (seperti gerakan  
      memberi salam jarak jauh)
c.       Al – Ghafar (Maha Pengampun), gerakan menangkupkan kedua tangan di depan dada
d.      As-Sami’ (Maha Mendengar), gerakan tangan memegang telinga
e.      Al – Basyir (Maha Melihat), gerakan tangan memegang mata


  • Lalu anak diminta menghafal materi serta gerakan yang diberikan, bagi yang belum hafal tidak diperbolehkan untuk bermain
  • Anak dibagi dalam 2 kelompok besar, muslim dan muslimah
  •  Anak yang berada di barisan paling depan melempar bola. Pin yang jatuh, dilihat nomornya, lalu anak harus menyebutkan Asmaul Husna sesuai dengan nomor dengan memperagakan gerakannya
  • Apabila strike, anak tidak perlu menyebutkan Asmaul Husna bisa langsung kembali ke barisan, dan menunggu giliran untuk melempar lagi. Apabila tidak ada satu pun pin yang terkena, maka ia harus menyebutkan semua Asmaul Husna-nya.





Kelebihan: Permainan seperti ini pernah dicobakan di kelas 3 dan alhamdulillah mereka dengan cepat menyerap informasi yang diberikan oleh guru. Tapi sebelum permainan setiap anak-anak harus dipastikan agar menghafal semua materi yang diberikan oleh guru. Sangat cocok untuk pelajaran yang bersifat hafalan singkat. 

Traditional Game Day 2013


Traditional Game Day 2013

Let's Inherit Our Noble Legacy


Bu Vivi/Al Razi Yellow Teacher


Hup...hup...hup!!!
Permainan tradisional adalah salah satu kekayaan budaya yang tak ternilai harganya. Di Indonesia sendiri, ada banyak jenis permainan tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Mulai dari yang bisa dimainkan sendiri sampai yang bisa dimainkan berkelompok. Permainan tradisional sendiri memiliki banyak manfaat, selain sebagai ajang bersenang-senang, bermain permainan tradisional bisa melatih fisik anak serta mengasah kecerdasan otak maupun kecerdasan interpersonal anak.

Permainan gobag sodor (galah asin atau galasin) misalnya. Permainan ini umumnya dimainkan oleh 2 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 3 sampai lima orang. Permainan ini pun cukup sederhana. Diawali dengan membuat garis-garis penjagaan dengan kapur atau dengan menggunakan tali, persis seperti membuat lapangan bulu tangkis hanya saja tidak ada garis rangkap. Lalu kedua kelompok yang sudah terbagi tadi pun kemudian menjadi tim penyerang dan tim penjaga. Poin akan didapat apabila tim penyerang mampu melewati garis-garis yang dijaga oleh tim lawan bolak bali. Sederhana ya? Tapi ternyata tidak mudah dilakukan lho.  Permainan ini secara tidak langsung mampu mengasah kemampuan anak dalam mengatur strategi dan bekerjasama dengan baik.

Lain lagi permainan lompat karet. Permainan dengan menggunakan untaian karet yang dijalin memanjang ini, tidak hanya mampu mengasah kemampuan motorik kasar anak (melompat), tapi juga mampu melatih emosi serta akurasi anak. Melatih emosi karena dibutuhkan keberanian untuk melompat dengan “mulus” tanpa kaki mengenai karet atau takut terjatuh, serta akurasi karena dibutuhkan juga ketelitian dalam melompat  dan mengikuti ritme ayunan tali. Namun lebih jauh lagi, permainan tradisional ini juga mengajarkan nilai-nilai sportifitas pada diri anak. Bahwa kalah menang adalah hal yang biasa dalam permainan dan kejujuran adalah hal yang perlu dijunjung tinggi dalam kehidupan.

Memulai permainan karet
SD Nizamia Andalusia sendiri menjadikan acara bermain dengan permainan tradisional ini sebagai even tahunan rutih yang dikhususkan untuk murid kelas 1. “Sudah lebih 3 kali dilaksanakan sejak awal berdiri,” begitu kata Bu Rara, guru kelas 1. Gelarannya diberi nama Traditional Games Day yang pada tahun ini jatuh pada hari Selasa 16 April 2013. Seperti pagi-pagi sebelumnya, anak-anak terlihat begitu bersemangat ke sekolah, sebelum akhirnya jam 10 pagi mereka berkumpul di hall utama sekolah. Bu Ririn, guru kelas 1 sekaligus PIC kegiatan ini kemudian membagi mereka dalam beberapa kelompok. Nantinya masing-masing kelompok akan ditemani satu guru pendamping untuk berkunjung ke pos-pos permainan yang ada. Ada empat pos permainan yang bias dicoba oleh anak-anak, yaitu pos congklak, pos dampu bulan, pos lompat karet, dan pos enggrang. Anak-anak terlihat sangat antusias mencobakan permainan-permainan ini.  

"Mau coba enggrang, ahh"

Seperti yang diungkapkan oleh Efra dan kawan-kawan, mereka senang dengan bermain congklak, lompat karet, serta dampu bulan. Namun tidak sedikit yang terlihat takut dan ragu . Para guru pun tidak patah semangat. Pak Syaiful dan Pak Lutfi dengan sabar mengajarkan satu per satu anak bagaimana cara memainkannya. Begitupun Bu Rahma, Bu Ika dan Bu Rara yang masing-masing menjaga pos dampu bulan, lompat tali, dan congklak. Mereka bahkan ikut bergabung bermain dengan anak-anak. Selama kurang lebih 1 jam bermain permainan ini, acara pun ditutup dengan penampilan topeng monyet “Si Bara” yang membuat suasana semakin ramai dan semarak. Di akhir acara, Pak Asis, sang pawang monyet,  yang sudah lebih 10 tahun berprofesi ini mengungkapkan rasa senangnya sudah bisa menghibur anak-anak SD Nizamia Andalusia. “Mudah-mudahan topeng monyet tetap lestari walaupun sekarang permainan anak-anak sudah semakin canggih dan banyak macamnya,” ujarnya.

Hmm, semoga tahun depan acaranya gak kalah seru yaaa..See you on the next Traditional Games Day!!!

Mau lihat pertunjukan si Bara dan opini para murid? Tonton videonya di sini:

Saturday, September 25, 2010

Detik-Detik Kelahiran Nabi

Waktu yang ditunggu-tunggu itu belum datang juga, namun beberapa orang masih terus mencari. Mereka menelusuri ujung-ujung kota Mekkah. Dari satu tempat ke tempat lain, orang-orang yang merindukan kehadiran seorang pembebas itu tak lupa bertanya kepada orang-orang yang mereka jumpai di setiap tempat.


Mereka bertanya begini kepada setiap orang, “Siapakah di antara kalian yang memiliki bayi laki-laki?”. Namun tak seorang pun mengiyakan pertanyaannya. Orang awam tentu tidak memahami maksud pertanyaan itu, namun orang-orang itu tidak juga berhenti untuk mencari dan menanyakan dimana gerangan bayi laki-laki yang dilahirkan. Semuanya ini dilakukan untuk membuktikan kepercayaan yang selama ini diyakininya. Bahwa dunia yang telah rusak sedang menanti kedatangannya.
Hingga pada suatu pagi.
Sebagaimana aktifitas yang telah diberlakukan semenjak zaman nabi Ibrahim a.s, setiap bayi yang lahir pada saat itu segera di-thawaf-kan. Ini tidak lain untuk mendapatkan hidup yang penuh barokah, yakni bertambahnya kebaikan lahir dan batin, serta mengharapkan kemuliaan dan petunjuk dari Allah s.w.t. Tidak terkecuali bagi seorang sayyid Abdul Muththalib, yang terkenal masih bersih dalam urusan teologi. Begitu mengetahui cucu laki-lakinya lahir, maka segeralah beliau membawa bayi itu menuju Ka’bah, lalu Thawaf, membawa bayi itu mengelilingi Ka’bah tujuh kali sambil berdoa kepada Allah s.w.t.
***
Tepat sesaat setelah sayyid Muththalib memasuki rumah setelah men-thawaf-kan cucunya, lewatlah seseorang yang selama beberapa hari ini mencari kelahiran seorang bayi laki-laki. Saat itu, orang yang sudah cukup tua tersebut masih menanyai kepada setiap orang yang dia temui, “Siapakah di antara kalian yang memiliki bayi laki-laki?”. Pada saat itulah sayyid Muththalib menyadari ada seorang tua yang mencari bayi laki-laki. 

 
Dipanggilnya orang tua itu, lalu beliau berkata kepadanya, “Saya punya bayi laki-laki, tapi, tolong katakan, apa kepentingan anda mencari bayi laki-laki?”.
Saya ingin melihat bayi laki-laki yang baru lahir. Itu saja”, jawab orang tua tersebut yang sekonyong-konyong muncul semangat baru dalam dirinya. Tanpa memberikan kesulitan apapun, sayyid Muththalib mempersilahkan orang tua itu masuk ke rumahnya untuk melihat bayi yang dimaksud.
Apa yang terjadi saat orang tua itu melihat bayi yang ditanyakannya, adalah hal yang tidak pernah dibayangkan oleh sayyid Muththalib. Sang sayyid memang tidak pernah berpikir apa pun. Sebagai layaknya seorang kakek yang berbahagia mempunyai cucu, beliau cukup bersyukur sang cucu dilahirkan dalam keadaan sehat wal afiat. Namun, bagi orang tua yang sedang mencari sesuatu itu tidak demikian. Begitu melihat bayi dan menemukan ciri-ciri sebagaimana disebutkan dalam kitab yang dia baca, serta informasi dari orang-orang terdahulu, orang tua itu berseru, “Benar, benar sekali ciri-cirinya, inilah bayi yang akan menjadi Nabi akhir zaman kelak…”. Dalam kebengongan sayyid Muththalib, pingsanlah orang tua yang selama ini mencari-cari bayi laki-laki tersebut, lalu wafat pada saat itu juga.
***
Orang-orang yang mencari bayi laki-laki saat itu, termasuk seorang tua yang akhirnya mendapatkannya dan pingsan, adalah para agamawan yang meyakini akan kehadiran seorang Nabi akhir zaman. Mereka sangat teguh memegang berita akan kemunculan nabi akhir zaman ini. Semakin kuat keyakinan mereka, semakin mereka meninggalkan urusan-urusan dunianya guna menanti atau mencari nabi akhir zaman itu. Penantian nabi akhir zaman itu, selain berkat informasi dari kitab-kitab mereka, saat itu, mereka juga sangat merasakan bahwa keadaan membutuhkan kehadiran sang Nabi.
Sedang sang bayi yang ditunggu adalah bayi Muhammad Shalla-llâhu ‘alayhi wa sallama, bayi yang kelak menjadi nabi terakhir.
Demikianlah, akhir dari kisah pencarian pendeta-pendeta serta segenap agamawan pada zaman pra Nabi Muhammad s.a.w. Pencarian atas apa yang diisyaratkan dalam kitab-kitab mereka, bahwa akan diutusnya nabi akhir zaman untuk meluruskan kembali aqidah-aqidah yang telah bengkok.
Dari kisah ini, kita mengetahui betapa pada waktu itu masyarakat mengelu-elukan kehadiran Nabi Muhammad s.a.w. ‘Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin’. (QS. 9:128). Hampir setiap kaum tahu bahwa ketika situasi sudah sangat rusak, nabi akhir zaman akan muncul. Namun, dari mana dia lahir, hal itu yang tidak pernah diketahui secara pasti. Yang diketahui pada saat itu adalah ciri-ciri tempat, posisi bintang, ciri-ciri bayi, dan lain sebagainya.
Dalam kitab-kitab lama, ciri-ciri tersebut ditulis secara jelas. Hingga masyarakat yang membaca kitab-kitab itu pun akan mengetahui pula. Tidak sekedar mengetahui, tapi mereka juga berkeinginan untuk dekat dengan nabi akhir zaman tersebut.
Salah satu yang diimpikan oleh berbagai kaum saat itu, adalah harapan agar nabi akhir zaman itu muncul dari keturunannya. Hal demikian tentu sangat manusiawi. Maka, untuk mewujudkan impian itu, banyak kaum yang melakukan migrasi dari kampung halamannya, untuk mencari tempat yang disebutkan ciri-cirinya oleh kitab-kitab lama.
Ada beberapa tempat yang saat itu menjadi pilihan para pencari nabi akhir zaman. Tempat-tempat itu antara lain adalah Mekkah, Madinah (Yathrib) serta Yaman. Salah satu dari tiga tempat itu diyakini menjadi tempat nabi akhir zaman dilahirkan. Banyak juga para agamawan yang menduga nabi akhir zaman masih akan muncul dari kawasan Jerusalem atau Damaskus.
***
Untuk kasus Mekkah, orang-orang atau kaum non Quraisy yang minoritas adalah kaum pendatang yang sengaja tinggal di Mekkah untuk menanti kedatangan nabi akhir zaman. Sedangkan kasus migrasi di Madinah, orang-orang Yahudi-lah yang banyak menempati kota tersebut waktu itu. Suku bangsa seperti Bani Nadhir, Quraizah, Qainuqa’ dan suku-suku kecil lainnya, yang sering muamalahnya menghiasi sejarah Islam dan târîkh Nabi s.a.w, adalah keluarga-keluarga Yahudi yang bermigrasi dari berbagai kawasan, baik dari Jerusalem, Yaman, maupun yang lainnya, ke daerah Madinah untuk menanti nabi akhir zaman. Migrasi-migrasi itu terjadi dengan harapan nabi akhir zaman muncul dari keturunan mereka, selain, tentunya, mengharapkan barokah tadi. Migrasi ke Madinah ini dilakukan sudah cukup lama, setidaknya mereka telah mendiami Madinah sekitar 100 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad s.a.w.
Banyak sekali suku-bangsa yang percaya akan datangnya nabi akhir zaman. Mulai dari Ethiopia (Al-Habsyi) hingga Damaskus (Dimasyqa), serta dari Yaman hingga negeri-negeri Rusia. Semuanya menanti kedatangannya.
***
Sang nabi akhir zaman itu telah lahir. Namun, sangat disayangkan, Allah s.w.t telah dengan cepat memanggil para agamawan yang menjadi “saksi kunci” kebenaran Muhammad s.a.w ke sisi-Nya. Seolah-olah sebuah drama yang penuh liku, sedikit demi sedikit, para agamawan yang diharapkan kesaksiannya telah wafat. Tidak bisa dibayangkan, andaikata para agamawan ini, dan segenap murid serta keturunannya, masih hidup serta senantiasa mengikuti perkembangan bayi Nabi Muhammad s.a.w. hingga pada usia-usia dewasa dan kenabian, tentu sejarah akan berbicara lain.
Memang, kasus-kasus wafatnya para agamawan setelah melihat tanda-tanda adanya kenabian, seperti yang terjadi pada orang tua itu, bukanlah yang pertama kali. Dalam rekaman sejarah, banyak sekali informasi yang membahasnya, bahkan sejak zaman sayyid Abdullah—ayahanda Nabi Muhammad s.a.w.—belum menikah dengan sayyidah Aminah, dan juga pada masa-masa dalam kandungan sayyidah Aminah. Hingga pada suatu waktu di kemudian hari, tepatnya 40 tahun setelah kelahiran nabi, sejarah juga kehilangan seorang agamawan-monotheis yang informasi spiritualnya sangat berharga bagi keberlangsungan keyakinan terhadap adanya nabi akhir zaman.
Dalam hadits yang diriwayatkan sayyidah ‘Aisyah r.a. disebutkan bahwa setelah mendapatkan wahyu, sayyidah Khadîjah r.a.—bersama nabi—mendatangi pamannya, Waraqah bin Naufal, untuk meminta advis atas apa yang baru saja terjadi pada nabi. Waraqah bin Naufal adalah seorang agamawan ahli kitab suci.
Setelah Nabi Muhammad s.a.w. menceritakan semua yang terjadi kepada beliau—di gua hira itu—langsung saja Waraqah terperanjat dan menjawabnya,”Itu adalah Namûs yang diturunkan Allah s.w.t. kepada Musa a.s. Ya Tuhan, semoga saja aku masih hidup ketika orang-orang mengusir nabi ini…”.
Waraqah tahu, bahwa yang menemui Nabi Muhammad s.a.w adalah Namûs, alias malaikat Jibril a.s., yang pernah menemui Nabi Musa a.s. dulu. Pengakuan Waraqah ini mirip dengan peristiwa yang terjadi beberapa tahun kemudian, saat Nabi Muhammad s.a.w. membacakan ayat al-Qur’an di hadapan jin, maka jin itu berkomentar, “Mereka berkata, ’Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (yaitu al-Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. [QS. 46:30].
Dan Waraqah tahu, bahwa yang ada di depannya saat itu adalah seorang nabi, yang di kemudian hari akan diusir oleh kaumnya sendiri dari tanah kelahirannya. Tapi, harapan Waraqah untuk menjadi saksi perilaku orang-orang terhadap Nabi Muhammad s.a.w. tidak kesampaian. Beberapa hari setelah itu, beliau wafat. Untuk ke sekian kalinya, Allah s.w.t memanggil hambanya yang bisa menjadi “saksi spritiual” atas kenabian Muhammad s.a.w. Tapi, itulah, Allah s.w.t tentu memiliki kehendak-kehendak tersendiri yang tidak pernah kita ketahui.
***
Dengan wafatnya beberapa agamawan yang menjadi saksi kebenaran kelahiran sang nabi, terputus pula informasi-informasi ini. Situasi informasi tentang nabi akhir zaman kembali ke titik nol. Namun inti berita yang ada dalam kitab-kitab tentang akan diutusnya nabi akhir zaman saat itu masih ada. Karena realitas teologis memang membutuhkannya. Hanya berita ini yang telah diketahui oleh para agamawan di berbagai tempat, sebagaimana berita akan kelahirannya. Dan mereka hanya bisa memegang keyakinannya, tanpa ada kemampuan untuk mencarinya, sebagaimana pendahulu-pendahulu mereka menemukan waktu saat-saat dilahirkannya Nabi Muhammad s.a.w. Nampaknya, agamawan yang baru membaca kitab-kitab suci itu lebih percaya bahwa nabi akhir zaman sudah benar-benar lahir di dunia ini.
Memang banyak ditemukan beberapa anak laki-laki yang memiliki nama Ahmad atau Muhammad pada masa pra kenabian. Menamakan Ahmad atau Muhammad karena orang tuanya sangat berharap anaknya menjadi nabi. Tetapi, para agamawan tentu sudah memiliki wasilah atau cara tersendiri untuk menentukan “validitas stempel” yang ada pada seorang nabi, apa lagi nabi akhir zaman. Maka, mereka tinggal menanti detik-detik kedatangan risalah dan deklarasi kenabian sang nabi akhir zaman itu.
***
Secara umum, bisa dikatakan bahwa kebanyakan para agamawan saat itu sudah mengetahui bahwa nabi akhir zaman akan diturunkan dari keluarga tertentu, dan di tempat tertentu. Ada saja yang mengetahui, atau setidaknya meyakini, bahwa nabi akhir zaman itu muncul dari keluarga Bani Hasyim, di daerah Mekkah, dan lain sebagainya. Ini misalnya terjadi kepada seorang pedagang dari Mekkah yang berjulukan Atîq, saat berdagang ke Yaman. Sebagai pedagang yang juga intelektual, kemana pun pergi beliau tidak lupa untuk berkunjung ke kalangan agamawan.
Saat beliau menemui seorang agamawan di Yaman, dan beliau ditanya tentang asal daerah serta dari keluarga apa, maka setelah mendapatkan jawaban, sang agamawan itu menyatakan, “Nanti akan ada nabi akhir zaman dari daerah kamu dan dari keluarga kamu”. Beliau—Atîq—percaya atas informasi yang disampaikan agamawan Yaman itu. Begitu sang nabi muncul dan mendakwahkan kembali ajaran-ajaran Tauhîd [monotheisme] yang hilang, dia –Atîq– pun segera bersaksi atas kebenaran ajaran itu. Beliau menjadi laki-laki pertama yang membenarkan risalah yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. Saat masuk Islam itu, beliau mengganti nama menjadi Abû Bakar, yang kelak menjadi sahabat utama sang nabi akhir zaman dan mendapatkan gelar Ash-Shiddîq, yang senantiasa membenarkan. Ini adalah jawaban atas pertanyaan, kenapa Abû Bakar r.a. selalu saja membenarkan kebenaran Muhammad.
***
Dalam al-Qur’an, Allah s.w.t. berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?". Mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. [QS. 3:81]
Para nabi berjanji kepada Allah s.w.t. bahwa bilamana datang seorang Rasul bernama Muhammad mereka akan iman kepadanya dan menolongnya. Perjanjian nabi-nabi ini mengikat pula para ummatnya. Namun, manusia selalu melakukan penentangan terhadap keputusan-keputusan Allah s.w.t. Para manusia itu ingkar, sebagaimana diceritakan dalam al-Qur’an, “Dan setelah datang kepada mereka Al Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka—maksudnya kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. yang tersebut dalam Taurat dimana diterangkan sifat-sifatnya—, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la'nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.(QS. 2:89)
Itulah manusia yang sangat tidak beruntung dengan melakukan penolakan terhadap kenabian Muhammad s.a.w. Maka, sangat tepat jika Nabi Muhammad s.a.w. bersabda dalam hadits yang penulis nukil pada permulaan di atas. Bahwa orang yang menjadi saudara Nabi s.a.w. adalah orang yang tidak pernah melihat Nabi s.a.w. namun percaya akan kenabian dan selalu membenarkan sabda-sabda beliau. Orang-orang yang tidak pernah bertemu dengan Nabi s.a.w. tapi selalu membenarkan beliau itulah yang merupakan orang-orang paling utama di antara orang-orang beriman. Ya Allah, tetapkanlah kami untuk selalu beriman kepada-Mu dan kepada Nabi-Mu.
Âmîn.
(Disarikan dari beberapa buku, terutama kitab Syarah Al-Barzanjî)

Friday, September 24, 2010

Hello Parents:)

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

May Allah always pouring his bless upon us

Now, Nizamia has new way to communicate. Without remove any communication ways we had, this blog in expected to be complete our interaction.
Nowhere, we not only share about information, but also share about more 'real' things such as photos even, newsletter, and any worksheet.
So, we hope this media can make us closer

Thank you for your continuous support
Regards,


Principal
Chibi Giant Man